Kasus HIV di Pringsewu Naik pada Semester I 2026, Dinkes: Indikator Keberhasilan Masifnya Skrining
PRINGSEWU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pringsewu mencatat adanya peningkatan temuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Semester I tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski angka kasus bertambah, hal ini justru dinilai sebagai indikator positif dari keberhasilan perluasan jangkauan deteksi dini di masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pringsewu, Rahmadi, menegaskan bahwa lonjakan data tersebut tidak serta-merta mencerminkan tingginya angka penularan baru di lapangan.
“Peningkatan ini tidak selalu berarti terjadi lonjakan penularan, melainkan wujud nyata dari upaya skrining dan penemuan kasus secara aktif yang semakin baik. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini, pengobatan dapat segera diberikan untuk menjaga kualitas hidup pasien dan menekan risiko penularan lebih lanjut,” jelas Rahmadi, Minggu (19/7/2026).
Berdasarkan data pantauan Dinkes Pringsewu, persebaran kasus HIV memiliki karakteristik spesifik:
Demografi Usia: Temuan kasus didominasi oleh kelompok usia produktif (25–49 tahun) yang secara umum memiliki tingkat aktivitas dan mobilitas tinggi.
Sebaran Wilayah: Kasus terbanyak berada di kecamatan padat penduduk. Tingginya angka di wilayah ini berbanding lurus dengan ketersediaan fasilitas layanan kesehatan yang memadai, sehingga cakupan pemeriksaannya pun jauh lebih luas.
Faktor Risiko: Penularan mayoritas masih dipicu oleh hubungan seksual berisiko tanpa pengaman (kondom), baik pada pasangan heteroseksual maupun populasi kunci. Selain itu, ditemukan pula transmisi dari suami/istri yang telah lebih dulu terinfeksi, serta risiko penularan dari ibu hamil ke anak kandungnya.
Strategi “Jemput Bola” dan Jaminan Stok ARV Sebagai langkah intervensi berkelanjutan, Dinkes Pringsewu telah mengimplementasikan sejumlah strategi penanggulangan:
penanggulangan:
Perluasan Layanan Tes: Skrining kini diperluas di seluruh puskesmas dan rumah sakit. Prioritas tes diberikan kepada ibu hamil, pasien Tuberkulosis (TB), Infeksi Menular Seksual (IMS), Hepatitis, serta kelompok berisiko tinggi.
Sistem Jemput Bola: Petugas kesehatan dari puskesmas bersama pendamping sebaya aktif turun ke lapangan untuk melakukan tes secara proaktif.
Terapi Berkelanjutan: Hingga pertengahan 2026, tercatat sebanyak 432 Orang Dengan HIV (ODHIV) yang aktif menjalani Terapi Antiretroviral (ARV) di seluruh layanan HIV di Pringsewu.
Jaminan Ketersediaan Obat: Rahmadi memastikan stok obat ARV saat ini dalam kondisi sangat aman. Dinkes terus memantau ketersediaan di faskes dan siap berkoordinasi cepat dengan Dinkes Provinsi Lampung serta Kementerian Kesehatan guna mencegah terjadinya kekosongan obat.
Meskipun tingkat kepatuhan minum obat (ARV) pasien secara umum dinilai baik, Rahmadi mengakui masih ada tantangan di lapangan. Beberapa pasien dilaporkan putus obat atau tidak rutin melakukan kontrol sesuai jadwal, sehingga pendampingan ketat terus dilakukan.
Tantangan lainnya adalah masih ditemukannya kasus yang baru terdiagnosis ketika pasien sudah memasuki stadium akhir atau Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Kondisi ini sering terjadi karena infeksi awal HIV umumnya tidak bergejala (asimtomatik), ditambah masih kuatnya stigma negatif dan rasa takut di tengah masyarakat untuk melakukan tes HIV secara mandiri.(***) 















