KOTAAGUNG, TANGGAMUS — Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, lanskap perekonomian pedesaan di Kabupaten Tanggamus mengalami transformasi dan peningkatan yang sangat tajam. Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanggamus secara resmi melaporkan keberhasilan fenomenal dalam menggenjot produktivitas lahan dan memfasilitasi adaptasi peternak lokal. Hal ini berdampak langsung pada terciptanya lonjakan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi tolok ukur utama kesejahteraan masyarakat agraris di wilayah ini.
Periode 2024-2025 dicatat dalam sejarah agraria Tanggamus sebagai fase ekspansi yang luar biasa bagi subsektor perkebunan rakyat. Berdasarkan rekapitulasi data, lima komoditas unggulan utama—Kopi, Kakao, Kelapa, Lada, dan Pala—menunjukkan persentase pertumbuhan organik yang sangat positif.
Komoditas Kopi mendemonstrasikan performa paling spektakuler dengan total kenaikan produksi sebesar 17,16%, melesat dari 32.443 ton pada tahun 2024 menjadi 39.165 ton pada tahun 2025. Lompatan ini tidak lepas dari keberhasilan intensifikasi pertanian, di mana produktivitas lahan meroket tajam dari 856 Kg/Hektar menjadi 1.027 Kg/Hektar.
Tidak hanya kopi, komoditas Kakao juga mencatatkan lonjakan produksi sebesar 14,93%, menyentuh total 8.672 ton pada 2025 berkat inovasi penggunaan bahan tanam klon MCC02 dan intervensi biostimulan. Komoditas penyangga lainnya seperti Kelapa tumbuh 8,46% (mencapai 21.988 ton), Pala tumbuh 5,77% (468 ton), dan Lada mencatat pertumbuhan 3,77%.
Berpadu dengan anomali harga komoditas di pasar global, efisiensi produksi ini memicu ledakan kekayaan bagi para pekebun. Puncaknya terjadi pada awal tahun 2025, di mana Nilai Tukar Petani subsektor Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) meledak ke angka rekor 182,64, merepresentasikan surplus daya beli dan kesejahteraan yang eksponensial.
Tabel 1: Rekapitulasi Produksi Perkebunan Tanggamus (2024 – 2025)
| Periode | Kopi (Ton) | Kakao (Ton) | Kelapa (Ton) | Lada (Ton) | Pala (Ton) |
| Tahun 2024 | 32.443 | 7.377 | 20.088 | 4.110 | 441 |
| – Triwulan I | 319 | 1.180 | 3.892 | 0 | 104 |
| – Triwulan II | 25.571 | 2.400 | 5.113 | 55 | 108 |
| – Triwulan III | 3.786 | 1.695 | 6.371 | 3.035 | 107 |
| – Triwulan IV | 2.767 | 2.102 | 4.712 | 1.020 | 122 |
| Tahun 2025 | 39.165 | 8.672 | 21.988 | 3.119 | 468 |
| – Triwulan I | 321 | 1.211 | 2.155 | 0 | 109 |
| – Triwulan II | 28.966 | 2.655 | 5.246 | 32 | 98 |
| – Triwulan III | 7.244 | 2.964 | 10.364 | 2.415 | 145 |
| – Triwulan IV | 2.634 | 1.842 | 4.223 | 672 | 116 |
| Kenaikan (%) | 17,16% | 14,93% | 8,46% | 3,77% | 5,77% |
Dinamika dan Pertumbuhan Sektor Peternakan
Sementara sektor perkebunan menikmati euforia harga, subsektor peternakan menunjukkan resiliensi tingkat tinggi dan strategi mitigasi risiko yang cerdas di tengah tantangan harga pakan. Data inventarisasi populasi ternak merekam pergeseran positif pada hewan dengan konversi ekonomi tinggi.
Populasi Sapi Potong mencatatkan pertumbuhan stabil sebesar 4,19%, menyentuh 7.211 ekor pada penutupan tahun 2025. Kabupaten Tanggamus juga terus memperkokoh posisinya sebagai lumbung penyuplai ternak ruminansia kecil di Sumatera Bagian Selatan dengan populasi Kambing yang tumbuh 1,12% melampaui 217.948 ekor.
Di sektor perunggasan, peternak merespon fluktuasi harga pakan jagung dengan bermigrasi ke pemeliharaan ternak siklus panen cepat. Hasilnya, populasi Ayam Ras Pedaging (Broiler) meledak pertumbuhannya hingga 81,63%, melesat dari 31.363 ekor menjadi 56.966 ekor. Intervensi pemerintah pusat dan daerah turut membantu memulihkan populasi unggas lokal, di mana Ayam Buras naik 1,01% dan unggas air (Itik) melonjak 45,47% mencapai 55.110 ekor.
Berkat dukungan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung dari pemerintah yang menyasar ke sentra peternakan, margin peternak perlahan-lahan membaik menjelang akhir 2025, membantu menjaga daya tahan ekonomi peternak desa.
Tabel 2: Rekapitulasi Populasi Ternak Tanggamus (2024 – 2025)
| Periode / Kategori | Sapi Potong | Kerbau | Kambing | Domba | Ayam Ras Petelur | Ayam Ras Pedaging | Ayam Buras | Itik |
| Kumulatif 2024 | 6.921 | 2.068 | 215.534 | 10.343 | 390.621 | 31.363 | 436.925 | 37.885 |
| Kumulatif 2025 | 7.211 | 1.214 | 217.948 | 8.233 | 191.623 | 56.966 | 441.331 | 55.110 |
| Dinamika (%) | +4,19% | -41,30% | +1,12% | -20,40% | -50,94% | +81,63% | +1,01% | +45,47% |
Tingginya likuiditas dan omzet triliunan rupiah dari perkebunan memicu peningkatan konsumsi di tingkat desa. Menyadari ancaman inflasi lokal dari fenomena ini, Pemerintah Kabupaten Tanggamus dengan sigap meluncurkan Gerakan Tanam Serentak Bawang Merah dan Cabai (Gertam Mata Babe).
Inovasi kebijakan ini dinilai sukses menekan biaya dapur rumah tangga dan mengendalikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT), yang secara langsung melindungi kesejahteraan para peternak dan masyarakat dari efek inflasi silang.
Secara keseluruhan, integrasi antara ledakan produktivitas alam di sektor perkebunan dan kemampuan adaptasi tinggi di sektor peternakan telah membuktikan bahwa perekonomian agraris Kabupaten Tanggamus berdiri sangat solid, menjanjikan era kemajuan dan stabilitas kesejahteraan yang paripurna bagi masyarakatnya.(*) 















