Era Emas Pertanian Tanggamus: Di Bawah Komando Henri Fatra, Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Ternak Meroket Sepanjang 2024–2025
TANGGAMUS, (Akuratimes.com) — Lanskap perekonomian pedesaan di Kabupaten Tanggamus tengah mengalami transformasi yang luar biasa. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, sektor perkebunan dan peternakan di wilayah ini tidak hanya mencatatkan rekor produksi, tetapi juga melahirkan gelombang kesejahteraan baru bagi para petani. Keberhasilan fenomenal ini tidak terlepas dari strategi jitu dan tangan dingin Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanggamus yang dikomandoi oleh Kepala Dinas Henri Fatra, S.T., M.M.
Di tengah dinamika ekonomi global, kebijakan yang diterbitkan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan sukses bertindak sebagai jaring pengaman sekaligus katalisator kekayaan warga. Hal ini terbukti dari tertekannya angka pengangguran terbuka (TPT) ke level sangat sehat di angka 3,19% pada tahun 2024.
Prestasi paling spektakuler diukir oleh subsektor perkebunan rakyat. Komoditas unggulan seperti kopi dan kakao mengalami lonjakan produksi yang eksponensial.
Kopi Meroket 17,16%: Produksi kopi melesat dari 32.443 ton pada tahun 2024 menjadi 39.165 ton pada 2025.
Kakao Tumbuh 14,93%: Produksi kakao menembus 8.672 ton pada tahun 2025.
Di bawah arahan Henri Fatra, lonjakan ini bukan dicapai dari pembukaan lahan baru, melainkan lompatan produktivitas lahan yang luar biasa. Produktivitas kopi meroket hingga 20% (dari 856 Kg/Hektar menjadi 1.027 Kg/Hektar) berkat keberhasilan adopsi Good Agricultural Practices (GAP) seperti teknik pemangkasan batang dan pemupukan presisi. Sementara pada komoditas kakao, intervensi sains agrikultur melalui penggunaan klon unggul MCC02 dan biostimulan mutakhir sukses mendongkrak hasil panen di tengah rekor harga kakao dan kopi dunia yang sedang tinggi-tingginya.
“Petani kita menikmati keuntungan berganda (double dividend). Di saat panen melimpah berkat inovasi di lapangan, harga dunia sedang memihak kita. Injeksi triliunan rupiah uang tunai kini masuk dan menggerakkan urat nadi ekonomi desa di Tanggamus,” ungkap sebuah analisis data lokal.
Keberhasilan program dinas ini terekam secara empiris melalui indikator Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Pada Februari 2025, NTP-Pr Tanggamus meledak ke angka 182,64. Indeks fantastis ini bermakna bahwa daya beli dan kekayaan petani perkebunan bernilai 82% lebih tinggi dibandingkan keranjang biaya hidup dasar dan operasional mereka. Momentum ini secara harfiah telah menciptakan kelas ekonomi menengah baru di kalangan pemilik kebun Tanggamus.
Selain itu, komoditas penyangga seperti Kelapa, Lada, dan Pala juga terus menunjukkan stabilitas yang kokoh, memberikan jaminan aliran kas (cash flow) bulanan yang aman bagi para petani sembari menunggu panen raya.
Berbeda dengan perkebunan yang sedang booming, sektor peternakan secara nasional dihadapkan pada tantangan lonjakan harga pakan jagung. Namun, berkat pendampingan yang sigap dari Dinas Perkebunan dan Peternakan, peternak Tanggamus menunjukkan resiliensi dan kemampuan mitigasi yang jenius.
Untuk menyiasati mahalnya pakan ternak siklus panjang, terjadi pergeseran strategis menuju hewan panen cepat. Populasi Ayam Ras Pedaging (Broiler) melonjak drastis hingga 81,63% guna mempercepat perputaran modal. Sementara itu, Kabupaten Tanggamus tetap kokoh sebagai lumbung ternak ruminansia dengan populasi kambing yang melampaui 217 ribu ekor, siap menyuplai kebutuhan Sumatera Bagian Selatan dan Pulau Jawa.
Pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat tantangan peternak. Dinas aktif berkoordinasi lintas sektoral menyalurkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung guna menyelamatkan margin keuntungan peternak mikro, sehingga populasi ayam buras dan itik kembali merangkak naik di paruh akhir 2025.
Ledakan kekayaan dari sektor perkebunan secara alami memicu tingginya konsumsi yang berisiko menaikkan inflasi pedesaan. Merespons hal ini, ekosistem tata kelola Pemkab Tanggamus melancarkan intervensi asimetris yang cemerlang.
Pj Bupati Tanggamus menginisiasi Gerakan Tanam Serentak Bawang Merah dan Cabai (Gertam Mata Babe) yang dieksekusi sinergis hingga ke tingkat desa. Program substitusi pekarangan rumah ini terbukti ampuh membendung lonjakan inflasi bumbu dapur harian. Hasilnya, biaya hidup masyarakat (Indeks Konsumsi Rumah Tangga) dapat ditekan, sehingga turut menyelamatkan daya beli peternak dan masyarakat non-perkebunan lainnya.
Tahun 2024–2025 menjadi saksi emas bagaimana kekayaan sumber daya alam Tanggamus berhasil dioptimalkan. Di bawah navigasi Kepala Dinas Henri Fatra, S.T., M.M., integrasi antara intervensi teknologi agrikultur di perkebunan dan pendampingan strategis di sektor peternakan telah membuktikan bahwa Tanggamus adalah pilar komersial agribisnis yang tangguh, adaptif, dan menyejahterakan rakyatnya secara nyata.(*) 















