Dinkes Lampung Selatan, Sukses UHC 98% & Tekan Stunting 9,9%
KALIANDA — Tahun 2026 menjadi titik balik bersejarah bagi tata kelola pelayanan kesehatan di Kabupaten Lampung Selatan. Di bawah kepemimpinan inovatif Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan, Devi Arminanto, SKM., MM., instansi ini sukses melakukan lompatan besar melalui rentetan program unggulan yang langsung menyentuh denyut nadi masyarakat.
Sejak dilantik secara unik oleh Bupati Radityo Egi Pratama di tengah hiruk-pikuk Terminal Pasar Inpres Kalianda pada awal Februari lalu, Devi Arminanto membawa pesan tegas: birokrasi kesehatan harus keluar dari balik meja dan hadir langsung di tengah rakyat.
Berikut adalah potret capaian gemilang Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung Selatan di tahun 2026 yang berhasil merombak paradigma pelayanan publik menjadi lebih modern, merakyat, dan berintegritas.
1. Komitmen “Lamsel Betik”: Bersih dari Korupsi untuk Pelayanan Maksimal
Menjadikan integritas sebagai panglima, Dinkes Lampung Selatan mengadopsi penuh filosofi “Lamsel Betik” (Bebas Transaksi Ilegal dan Korupsi). Kebijakan ini memastikan setiap rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sektor kesehatan benar-benar dialokasikan untuk kebutuhan dasar warga tanpa kebocoran. Transparansi tata kelola keuangan ini bahkan turut membawa Lampung Selatan meraih insentif Rp2 miliar berkat keberhasilan menduduki peringkat kedua nasional dalam Creative Financing 2026.
2. Sukses Tembus UHC 98% dan Raih Penghargaan Nasional
Salah satu prestasi paling fundamental di tahun 2026 adalah keberhasilan mempertahankan dan meningkatkan status Universal Health Coverage (UHC).
Capaian Kepesertaan: Perlindungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini telah menyentuh angka 98% (lebih dari 1,02 juta jiwa), melonjak signifikan dari 95,35% pada tahun 2022.
Penghargaan: Atas dedikasi ini, Pemkab Lampung Selatan dianugerahi UHC Award Kategori Pratama.
Keaktifan Peserta: Dinkes secara proaktif melakukan rekonsiliasi data triwulanan bersama BPJS dan lintas instansi guna memastikan warga miskin tetap bisa berobat gratis tanpa hambatan administratif.
3. Angka Stunting Turun Drastis ke 9,9% lewat “Swasembada Gizi”
Keseriusan memutus mata rantai stunting membuahkan hasil manis. Berdasarkan data SSGI terbaru, angka stunting di Lampung Selatan berhasil ditekan hingga tersisa 9,9%—sebuah pencapaian impresif yang membawa daerah ini selangkah lebih dekat menuju Zero Stunting.
Keberhasilan ini didorong oleh 4 strategi utama: penguatan basis data, penajaman lokus prioritas, sinkronisasi lintas daerah, dan evaluasi ketat. Selain itu, Dinkes turut mengawal ketat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melakukan inspeksi langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) demi memastikan standar higiene dan sanitasi makanan bagi anak-anak sekolah.
4. Peluncuran “Hallo Lamsel”: Revolusi Digitalisasi Layanan Pengaduan
Mendobrak kekakuan birokrasi, Dinkes menghadirkan layanan digital “Hallo Lamsel”. Hanya dengan mengirim pesan WhatsApp (ke nomor 083126678332), masyarakat kini bisa:
Melaporkan keluhan layanan kesehatan dengan cepat.
Mengunggah bukti foto kondisi di lapangan.
Memantau status penanganan melalui nomor tiket otomatis.
Inovasi yang user-friendly ini berhasil membawa Lampung Selatan meraih opini kualitas tinggi dalam pencegahan maladministrasi pelayanan publik.
5. Kolaborasi Masif: Dari Predikat Bebas Frambusia hingga Sinergi 986 Mahasiswa Medis
Upaya preventif terus menjadi ujung tombak. Tahun ini, Dinkes berhasil:
Mempertahankan status Kabupaten Bebas Frambusia dari Kemenkes RI.
Menggelar pemeriksaan kesehatan gratis dan layanan KB bagi para buruh bertepatan dengan Hari Buruh (May Day) 2026.
Menggandeng institusi pendidikan melalui penerjunan 986 mahasiswa Poltekkes Tanjung Karang ke 25 desa di Kecamatan Sidomulyo dan Katibung. Para mahasiswa ini menjadi tenaga perbantuan krusial dalam mengedukasi gizi keluarga, memperbaiki sanitasi, dan melakukan deteksi dini penyakit langsung di rumah-rumah warga pelosok.
Menuju Indonesia Emas 2045 Transformasi dinamis yang digawangi oleh Devi Arminanto beserta jajaran struktural Dinas Kesehatan Lampung Selatan di tahun 2026 ini membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang berempati, adaptasi teknologi, dan tata kelola yang transparan, pelayanan kesehatan yang paripurna bukanlah sekadar angan. Kini, Lampung Selatan telah memiliki fondasi kesehatan masyarakat yang kokoh, responsif, dan siap menyongsong generasi cerdas menuju visi Indonesia Emas 2045.(*) 















