BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung membuka tangan selebar-lebarnya bagi kaum intelektual muda untuk bersinergi aktif dalam setiap lini pembangunan. Komitmen kuat ini disuarakan langsung oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat menghadiri kegiatan Stadium General BEM Universitas Lampung (Unila) Periode 2026 di kampus setempat.
Acara akbar yang mengusung tema ‘Mahasiswa sebagai Katalisator Perubahan serta Pusat Gerak Menuju Industri 5.0 dan Indonesia Emas 2045’ ini juga dirangkaikan secara khidmat dengan pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Unila Periode 2026. Estafet kepemimpinan resmi diserahterimakan dari Presiden BEM 2025, Muhammad Amar Fauzan, kepada Presiden BEM 2026 terpilih, Aditiya Putra Bayu.
Dalam arahannya di hadapan ratusan mahasiswa, Gubernur Mirza menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM). Saat ini, Provinsi Lampung tengah memasuki fase krusial bonus demografi, di mana sekitar 71 persen penduduknya berada pada usia produktif.
“Semakin tinggi kualitas SDM, semakin cepat peradaban itu maju. Mahasiswa menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan kualitas SDM tersebut,” ungkap Gubernur. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak tinggal diam menjadi penonton, melainkan turut berperan aktif memanfaatkan potensi daerah demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Tak sekadar mengajak berkolaborasi, Gubernur Mirza turut menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial (social control). Ia mendorong keberanian mahasiswa untuk bersuara secara objektif apabila kebijakan yang diambil pemerintah dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Jika pemerintah tidak berpihak kepada masyarakat, kalian wajib berbicara dan bersuara. Karena kebijakan hari ini menentukan nasib kalian 20 tahun ke depan,” tegas Gubernur Mirza.
Pesan konstitusional tersebut disambut positif oleh Presiden BEM Unila 2026, Aditiya Putra Bayu. Ia menegaskan bahwa pihaknya siap memposisikan lembaga kemahasiswaan sebagai mitra strategis yang konstruktif bagi pemerintah daerah.
“Kami tidak memposisikan diri sebagai oposisi, tetapi sebagai mitra kritis. Kami siap bersinergi jika kebijakan berpihak kepada rakyat, dan akan mengawal jika sebaliknya,” tegas Aditiya.
Sementara itu, Rektor Universitas Lampung, Lusmeilia Afriani, mengajak para mahasiswa untuk memaksimalkan lingkungan kampus sebagai ruang pembelajaran multidimensional. Ia mendorong mahasiswa agar aktif berorganisasi secara produktif serta senantiasa menjaga etika, integritas, dan nilai kebangsaan di tengah arus perkembangan teknologi global.
Menambah bobot intelektual dalam acara tersebut, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, yang hadir sebagai keynote speaker, memberikan pembekalan strategis. Ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis dan ketajaman dalam mengurai akar permasalahan merupakan modal utama yang wajib dimiliki mahasiswa sebagai bekal menghadapi realitas dunia luar kampus.
Melalui kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa, momentum ini diharapkan mampu melahirkan sinergi kokoh dalam mencetak generasi unggul yang siap membawa Provinsi Lampung dan Indonesia menuju kejayaan di masa depan. (***)










