
TIMES AKURAT NEWS, TANGGAMUS – Kegiatan pelatihan kaji cepat untuk Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) multisektor di Kabupaten Tanggamus adalah langkah strategis dalam persiapan dan mitigasi bencana. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu yang terlibat, tetapi juga untuk memastikan bahwa seluruh tim dapat bekerja secara sinergis. Ketika bencana datang, respons yang cepat dan akurat sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian. (23/12/2024)
Pengelolaan bencana modern membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dalam konteks ini, pemerintah daerah mengambil langkah proaktif dengan membentuk tim reaksi cepat multisektor. Keputusan Bupati Tanggamus Nomor: B.89/44/08/2023 menjadi landasan hukum bagi pembentukan TRC ini. Melalui kebijakan ini, diharapkan adanya sinergi dan dukungan dari berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hingga aspek sosial, untuk meningkatkan kapabilitas dan efisiensi tim dalam menangani situasi darurat.
Dalam upaya penanggulangan bencana, pengembangan teknologi dan inovasi juga menjadi komponen penting. Dengan memanfaatkan teknologi terbaru, TRC-PB dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam penanganan bencana. Misalnya, penggunaan aplikasi manajemen bencana dan sistem informasi geografis (SIG) mampu mempercepat pengambilan keputusan, serta memberikan informasi yang tepat dan real-time. Selain itu, teknologi komunikasi yang baik akan memastikan bahwa semua anggota tim dapat berkoordinasi dengan efektif, bahkan dalam situasi yang sangat menekan.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten 2 Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Hendra Wijaya Mega, Bupati Mulyadi Irsan memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan pelatihan untuk anggota tim reaksi cepat. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan anggota TRC dalam menganalisis, menghitung, dan mengumpulkan data terkait kerusakan atau kerugian akibat bencana.
Keberhasilan tim reaksi cepat sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam melakukan analisis yang tepat dan pengumpulan data yang akurat. Penilaian kebutuhan dan kerusakan harus dilakukan secara sistematis dan terstruktur, agar informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk merumuskan strategi penanggulangan bencana yang efektif.
Kabupaten Tanggamus memiliki wilayah daratan dan lautan yang luas, dengan panjang garis pantai 202 km, dengan potensi bencana sebagai berikut:
• Wilayah daratan 40% merupakan perbukitan dan pegunungan sehingga rawan bencana tanah longsor.
• Wilayah Kabupaten Tanggamus dilewati oleh dua sungai besar yaitu Way Sekampung dan Way Semaka yang terdiri dari 220 sungai dari sungai ordo ke-1 s.d. sungai ordo ke-5 sehingga wilayah Kabupaten Tanggamus menjadi rawan banjir dan banjir bandang.
• Kabupaten Tanggamus juga dilewati oleh 2 sesar/patahan utama yaitu Sesar Semangko/Sunda dan Sesar Kota Agung, sehingga wilayah Kabupaten Tanggamus menjadi rawan gempa bumi.
• Sembilan kecamatan di Kabupaten Tanggamus berada di pesisir Teluk Semangka sehingga rawan terjadi abrasi pantai dan terdapat 3 sumber gempa di laut yang dapat menimbulkan tsunami yaitu: Jalur subduksi lempeng Samudera Indo-australia terhadap lempeng benua Eurasia. Perpanjangan Sesar Semangko sepanjang bukit barisan yang sampai ke Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau yang erupsi maupun longsoran lerengnya dapat menimbulkan tsunami.
Bencana yang sering terjadi pada puncak musim hujan di wilayah Kabupaten Tanggamus adalah banjir, banjir bandang dan longsor. Mengingat saat ini kita akan memasuki puncak musim hujan, pelatihan ini juga bertujuan agar masyarakat lebih siap dalam melakukan mitigasi, edukasi, persiapan dan kesiapsiagaan.










