Waspada, Angka Bencana Alam di Tanggamus Melonjak Drastis Sepanjang 2025
TANGGAMUS (Akuratimes.com) – Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kabupaten Tanggamus melaporkan adanya peningkatan signifikan frekuensi bencana alam di wilayah tersebut. Berdasarkan evaluasi data tahunan, tercatat sebanyak 30 kejadian bencana terjadi sepanjang tahun 2025, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 12 kejadian.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Tanggamus, Irvan Wahyudi, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat setempat.
Irvan menjelaskan bahwa lonjakan kasus ini tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim global yang ekstrem. Fenomena badai siklon dan La Nina yang melanda sejumlah wilayah turut memperparah kondisi cuaca di Tanggamus.
“Perubahan iklim global menjadi faktor utama. Kondisi ini makin diperparah lantaran letak geografis Kabupaten Tanggamus yang didominasi perbukitan, sehingga sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi,” jelas Irvan, Rabu (7/1/2026).
Selain ancaman cuaca, Irvan juga menyoroti potensi bencana geologi yang perlu diwaspadai. “Di akhir tahun, kita juga dihantui oleh adanya potensi gempa Megathrust yang informasinya terus kita pantau,” tambahnya.
Berdasarkan jenis bencananya, data Pusdalops PB merinci klasifikasi kejadian sebagai berikut:
- Banjir Bandang: Menjadi jenis bencana yang paling mendominasi dengan frekuensi tertinggi.
- Kebakaran Bangunan: Menempati urutan kedua.
- Cuaca Ekstrem: Angin kencang dan hujan lebat.
Secara temporal, puncak kejadian bencana pada tahun 2025 terjadi pada bulan Mei (7 kejadian) dan disusul bulan Juni (5 kejadian).
“Dari hasil pemetaan risiko, daerah rawan bencana tersebar merata di berbagai kecamatan, mulai dari wilayah pesisir pantai hingga dataran tinggi atau pegunungan,” papar Irvan.
Menghadapi potensi bencana di tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui BPBD telah menyusun langkah-langkah strategis. Fokus utama saat ini adalah monitoring berkala dan penguatan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Irvan menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat memasuki masa pancaroba atau pergantian musim.
“Karena kondisi cuaca yang sulit diprediksi, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama. Kami mengajak seluruh warga di Bumi Begawi Jejama untuk proaktif dalam upaya mitigasi guna mengurangi risiko korban dan kerugian,” pungkasnya. 











